Kelapa sawit
merupakan komoditi yang memiliki potensi yang sangat besar dalam
menyumbangkan devisa bagi negara dari sektor non migas. Indonesia
sebagai produsen minyak sawit melihat hal tersebut sebagai pemacu
untuk meningkatkan produksi, melalui perluasan lahan penanaman
kelapa sawit (ekstensifikasi) dan meningkatkan teknologi pertanian
yang berkualitas (intensifikasi).
Budidaya Kelapa Sawit
Daerah
pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15
°LU-15 °LS. Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang
ideal berkisar antara 0-500 m dpl. Kelapa sawit menghendaki
curah hujan sebesar 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum untuk
pertumbuhan kelapa sawit adalah 29-30 °C. Intensitas penyinaran
matahari sekitar 5-7 jam/hari. Kelembaban optimum yang ideal
sekitar 80-90 %. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah
Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol.
Nilai pH yang optimum adalah 5,0–5,5. Kelapa sawit menghendaki
tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki
lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas.
.
Perbanyakan kelapa sawit dilakukan dengan cara generatif dan
saat ini sudah dilakukan kultur jaringan untuk memperbanyak
kelapa sawit. Pada pembiakan dengan kultur jaringan digunakan
bahan pembiakan berupa sel akar (metode Inggris) dan sel daun
(metode Perancis). Metode ini mampu memperbanyak bibit tanaman
secara besar-besaran dengan tingkat produksi tinggi dan pertumbuhan
tanaman seragam.
.
Benih untuk bibit kelapa sawit disediakan oleh Marihat Research
Station dan Balai Penelitian Perkebunan Medan. Benih dengan
kualitas sangat baik ini berasal dari induk Delidura dan bapak
Pisifera.
.
Cara
melakukan perbanyakan tanaman kelapa sawit sebagai berikut :
a) Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya.
b) Tandan buah diperam selama tiga hari dan sekali-kali disiram
air. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari.
c) Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah
dari biji. Cuci biji dengan air dan masukkan ke dalam larutan
Biotama 5 ( 3 tutup botol Biotama dalam 1 liter air) selama
3 menit. Keringanginkan dan seleksi untuk memberoleh biji yang
berukuran seragam.
d) Semua benih disimpan di dalam ruangan bersuhu 22 °C dan
kelembaban 60-70% sebelum dikecambahkan.
.
Sedangkan benih yang siap dikecambahkan, lalu diperlakukan sebagai
berikut:
a) Rendam biji dalam air selama 6-7 hari dan ganti air tiap
hari, lalu rendam dalam larutan Biotama 5 selama 2 menit. Biji
dikeringanginkan.
b) Masukkan biji ke dalam kaleng pengecambahan dan tempatkan
dalam ruangan dengan temperatur 39 °C dan kelembaban 60-70%
selama 60 hari. Setiap 7 hari benih dikeringanginkan selama
3 menit.
c) Setelah 60 hari rendam benih dalam air sampai kadar air 20-30%
dan kering anginkan lagi. Masukkan biji ke larutan Biotama 5
selama 1-2 menit. Simpan benih di ruangan 27 °C. Setelah
10 hari benih berkecambah. Biji yang berkecambah pada hari ke
30 tidak digunakan lagi
.
Penanaman
sawit.
Tiap lubang tanaman beri pupuk organik dari kotoran ternak/pupuk
kandang yang difermentasi dengan Biotama 3. Pada saat penanaman
20 kg/lubang tanaman. Dan selalu diulang setiap tahun. Disamping
itu semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman
di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum
jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah
jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah
terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin
sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berumur 2 minggu
sd 1 tahun disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama
**) tiap Hektar. Umur 2 sd 3 tahun setelah tanam disemprot 8
– 9 tangki untuk tiap hektar tanaman.
.
Pengembangan
Kelapa Sawit
Perluasan areal lahan telah dimulai sejak beberapa tahun ini.
Indonesia telah memperluas lahan penanaman kelapa sawit sampai
ke Indonesia bagian Timur, seperti Kalimantan dan Sulawesi (sebelumnya
hanya pulau Sumatra). Perluasan lahan tersebut mempunyai dampak
pada teknologi pertanian, karena lahan baru yang ditanami kelapa
sawit tersebut mempunyai sifat dan struktur tanah yang berbeda
dari keadaan lahan sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan peningkatan
teknologi pertanian yang berkualitas.
.
Peningkatan
produktivitas merupakan tantangan terkini dalam budidaya kelapa
sawit yang dilatarbelakangi oleh terus meningkatnya biaya produksi,
harga sawit yang berfluktuasi, dan pengembangan kelapa sawit
yang terus mengarah ke lahan marjinal.
.
Upaya percepatan masa pertumbuhan tanaman dilakukan melalui
peningkatan kualitas bibit kelapa sawit yang didukung dengan
penerapan kultur teknis terkini sesuai standar. Peningkatan
produksi kelapa sawit diupayakan melalui pengaturan kerapatan
tanaman secara berjenjang dan peremajaan tanaman dengan teknik
underplanting. Tindakan untuk mengatasi faktor-faktor pembatas
pada lahan marjinal di antaranya diupayakan melalui penerapan
berbagai teknik terkini tentang konservasi tanah, GIS (geographical
information system), pengelolaan air bebas aliran per_mukaan,
pengelolaan hara tanah secara berimbang, aplikasi bahan pembenah
tanah, perakitan teknologi budidaya kelapa sawit berdasarkan
aspek biologi yang ramah lingkungan.
.
Peningkatan
produksi kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor,
antara lain perbaikan lahan, sistem pemupukan dan perawatan
tanaman selama pertumbuhannya. Sifat lahan perkebunan kelapa
sawit selama ini selalu menggunakan pupuk kimia dan pestisida
sehingga lahan yang awalnya bersifat alami menjadi tercemar
dan dalam jangka panjang lahan terasebut akan rusak dan tidak
layak untuk pertanian. Itulah Sebabnya, pengolahan lahan harus
ditangani dengan teknologi yang berkualitas, ramah lingkungan
dan berkesinambungan.
.
* Menyadari keadaan di atas, maka PT UTOMO DECK menawarkan teknologi
yang berbasis biologis yaitu pemupukan dengan teknologi mikroorganisme
dengan merk : BIOTAMA. BIOTAMA membantu : Menggemburkan dan
menyehatkan tanah.
* Meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang positif di dalam
tanah.
* Menyehatkan benih dan bibit tanaman. Daun, bunga & buah
tidak mudah rontok.
* Menekan hama & penyakit tanaman.
* Mempercepat pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih tebal
& kuat, batang tanaman lebih kuat.
* Meningkatkan produksi, rasa, warna dan kualitas hasil panen.
* Menghasilkan produk yang sehat dan bebas bahan kimia
.
BIOTAMA
1 mengaktifkan kembali mikroorganisme di dalam tanah, air dan
udara sehingga bisa menangkap berbagai unsur hara dan digunakan
untuk membantu pertumbuhan tanaman. BIOTAMA 1 mengandung mikroorganisme
jenis penicillium dan streptomyces yang berfungsi sebagai anti
toksin sehingga bisa menyehatkan tanaman. Bakteri fotosintetik
yang ada di dalam BIOTAMA 1 meningkatkan energi, jadi bila disemprotkan
pada tanaman akan memacu pertumbuhan tanaman, bila disiramkan
pada tanah akan memperbaiki produktivitas tanah. Dan bila digunakan
untuk merendam benih maka benih menjadi lebih sehat dan mudah
tumbuh.
.
Bakteri-bakteri
yang terkandung dalam BIOTAMA merupakan bakteri alamiah (asli
Indonesia) yang dikultur secara fermentasi dengan sistem pengkayaan
nutrisi. Bakteri tersebut adalah Rhizobium, Azotobacter, Actinomycetes,
Lactobacillus, Streptomyces, Rhodomyces dan Bakteri Fotosintat
dan berbagi jenis lainnya yang terdiri dari 79 strain dalam
jumlah sekitar 107. per cc BIOTAMA tersebut.
.
BIOTAMA
telah dites di Lab. Mikrobiologi, Universitas Brawijaya Malang
dengan nomer 28/MIKRI-BIO/F-MIPA/06/2005 dan telah mendapat
ijin dari Departemen Perindustrian untuk diproduksi skala industri
dengan nomer : 533/172/435.4.12/2005. Pada tanggal 25 Juni 2006
BIOTAMA telah mendapatkan pengakuan dari IFOAM (International
Federation of Organic Agriculture Movement). Hal tersebut mengartikan
bahwa BIOTAMA telah memenuhi syarat sebagai pupuk organik sesuai
dengan komposisinya (nutrisi dan kandungan mikrob) yang telah
layak untuk dipasarkan dan diuji coba dengan hasil yang memuaskan.
BIOTAMA juga melakukan tes / uji terhadap produk secara kontinyu
untuk menjaga kualitas produk sehingga tidak merugikan konsumen.
.
* BIOTAMA digunakan oleh petani sawit karena Menggemburkan dan
menyehatkan tanah.
* Meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang positif di dalam
tanah.
* Menyehatkan benih dan bibit tanaman. Daun, bunga & buah
tidak mudah rontok.
* Menekan hama & penyakit tanaman.
* Mempercepat pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih tebal
& kuat, batang tanaman lebih kuat.
* Meningkatkan produksi, rasa, warna dan kualitas hasil panen.
* Menghasilkan produk yang sehat dan bebas bahan kimia.
.
BIOTAMA,
sebagai sumber inokulan mikroorganisme mengandung : Bakteri
Penambat Nitrogen Bebas, seperti Rhizobium sp., Bradyrhizobium
sp. dan Azobacter sp.dll.
.
Bakteri-bakteri
tersebut sudah lazim digunakan sebagai inokulan yang penting
dalam pertanian terpadu (mixfarming), sistem tumpang sari (multiple
cropping system) dan tanaman penutup (over crops) sebagai pupuk
hayati. Pupuk hayati mempunyai kelebihan, yaitu ramah lingkungan
karena tidak meninggalkan residu yang tidak terurai (rekalsitran)
dan lebih murah karena dapat diproduksi secara lokal. Baik bentuk
asosiasi maupun bentuk bebasnya, bakteri-bakteri tersebut tetap
mempunyai kemampuan untuk mengikat (memfiksasi) Nitrogen bebas,
sehingga tanaman tidak hanya tergantung pada kandungan Nitrogen
tanah yang biasanya berasal dari pupuk kimia.
.
Tanaman
penyerap Nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3) atau ammonia (NH3).
Sehingga ammonia yang dihasilkan dari bakteri penambat N dapat
langsung digunakan oleh tanaman. Selain dapat menyediakan N
untuk tanaman, bakteri penambat N juga mampu untuk menghasilkan
zat pengatur tumbuh (ZPT) bagi tanaman. Seperti senyawa Indol
(IAA) yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan akar dan
memacu pembentukan rambut akar sehingga daya serap akar terhadap
nutrisi akan mengikat, dan Giberelin yang dapat mempercepat
pertumbuhan tanaman, khususnya perpanjangan batang.
.
Nitrogen merupakan nutrisi yang paling penting bagi warna hijau
daun (klorofil). Apabila sebuah tanaman menderita kekurangan
(defisiensi) N akan menyebabkan daun mengalami klorosis (daun
tidak hijau), sehingga menurunkan laju fotosintesis yang akan
memberikan dampak menurunnya fotosintat yang akhirnya akan menurunkan
produktivitas suatu tanaman. Institut Riset Padi Internasional
(IRRI) telah melakukan penelitian bahwa bakteri penambat Nitrogen
yang hidup bebas dapat memfiksasi N2 hingga 50-60%. Sehingga
kita dapat menghemat biaya dengan mengurangi pemberian pupuk
N konvensional.
.
Menurut
Hakim dkk. (1986) definisi proses mineralisasi adalah proses
perubahan senyawa organik menjadi unsur anorganik. Misalnya,
perubahan nitrogen organik menjadi nitrogen anorganik dan dapat
digunakan tanaman. Mineralisasi adalah pelapukan bahan organik
yang melibatkan kerja enzim-enzim yang menghidrolisa komplek
protein
.
Mineralisasi
nitrogen organik sebenarnya adalah proses amonifikasi dan nitrifikasi.
Amonium adalah senyawa nitrogen anorganik yang paling tereduksi
dan merupakan substrat awal bagi proses nitrifikasi. Definisi
nitrifikasi adalah proses pembentukan nitrat atau nitrit secara
hayati dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen tereduksi.
Proses nitrifikasi dan amonifikasi adalah proses mineralisasi.
Nitrifikasi terdiri dari dua tahap yaitu oksidasi amonium menjadi
nitrit disusul dengan oksidasi nitrit menjadi nitrat oleh dua
jenis bakteri yakni : Nitrosomonas yang mengoksidasi amonium
menjadi nitrit, dan Nitrobacter yang mengoksidasi nitrit menjadi
nitrat (Imas dkk., 1989; Sutedjo dkk., 1996)
.
Bakteri
pelarut Fosfat (PSB)Ketersediaan P di tanah ada dalam dua bentuk,
yaitu fosfat organik (asam nukleat) dan fosfat anorganik (berikatan
dengan logam seperti A1, Ca, Fe). Fosfat dalam tanah dapat dilarutkan
dengan sistem perakaran dan mikroorganisme. Namun kedua sistem
tersebut bekerja tergantung pada pH tanah. Pada keadaan tanah
netral sampai mendekati basa, tanah banyak mengandung kalsium
sehingga terjadi pengendapan kalsium fosfat (CaPO4) dan fosfatnya
terlepaskan. Proses ini disebut sebagai pelarutan oleh perakaran
dan mikroorganisme. Pada keadaan tanah asam, tanah miskin kandungan
kalsiumnya, sehingga fosfat lebih potensial berikatan dengan
Fe maupun A1 yang bersifat sukar larut, sehingga dapat mengakibatkan
tanaman mengalami kekurangan fosfat. Oleh karena itu, pada tanah
asam kita dapat mesiasatinya dengan cara menginokulasikan biji
/ tanah dengan mikroorganisme pelarut fosfat dan pupuk ber-fosfat.
.
Unsur
P sangat diperlukan oleh tanaman untuk proses pembelahan sel,
pembungaan, pembuahan dan perkembangan akar lateral (akar cabang)
yang berperan penting dalam penyerapan hara mineral. Bakteri
pelarut fosfat juga mampu menghasilkan asam organik seperti
asam propionat, asetat, fumarat, suksinat, format dan asam glikolat
yang dapat dimanfaatkan oleh perakaran maupun memacu pertumbuhan
bakteri lain yang bersifat sinergis.
.
Actinomycetes
.
Actinomycetes
oleh para peneliti mkrobiologi dikelompokan ke dalam bakteri.
Bakteri ini memiliki kemampuan yang penting bagi kelangsungan
proses-proses fisika, kimia dan biologi tanah. Actinomycetes
biasanya hidup didalam tanah dan berperan penting dalam proses
pelapukan/ perombakan bahan organik kompleks menjadi bahan organik
yang lebih sederhana dan dapat langsung digunakan oleh organisme
lain. Keistimewaan bakteri ini adalah memiliki kecenderungan
untuk berasosiasi dengan suatu lapisan permukaan padat.
.
Actinomycetes
adalah bakteri yang tidak tahan asam, memiliki filament diawal
pertumbuhannya. Actinomycetes dapat bersifat anaerob fakulatif
(mampu tumbuh baik jika terdapat O2 bebas atau tidak ada O2)
dapat mampu memfermentasikan karbohidrat. Actinomycetes mempunyai
3 fungsi:
1.Mendekomposisi bahan organik
2. Menghasilkan antibiotik yang dapat menghambat bahkan mematikan
mikroba lainnya, khususnya yang patogen
3. Mengikat struktur tanah liat sehingga dapat memperbaiki sifat
fisik tanah
4. Dapat menghilangkan bau, dengan zat-zat metabolik yang dikeluarkannya
.
Lactobacillus
.
Lactobacillus tergolong kedalam famili Lactobacillaceae, bakteri
berbentuk batang dan Gram Positif, tidak berspora, anaerob fakultatif,
bakteri ini berperan dalam penyediaan nutrisi, asam-asam lemak
(asam laktat, asam asetat) dan dapat mensintesis vitamin (vit
B)
.
Lactobacillus dapat bersifat:
1. Homofermentatif, yaitu dapat memecah gula menjadi asam laktat
dan menghasilkan antibiotik.
2. Heterofermetatif yaitu mampu memecah gula menjadi asam laktat
dan produk-produk sampingan seperti asam asetat dan CO2 (karbondioksida)
.
Streptomyces, Actinomycetes dalam BIOTAMA membentuk zat-zat
yang anti bakteri, juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti
hormon dan enzim yang dapat meningkatkan jumlah sel aktif dan
perkembangan akar. Sekresi ragi merupakan substrat yang baik
untuk mikroorganisme efektif seperti bakteri asam laktat dan
Actinomycetes. Streptomyces, fungi dan bakteri asam laktat adalah
merupakan mikroorganisme fermentatif yang dapat mendegradasi
bahan-bahan organik (Prihandarini, 2000; Schlegel, 1994)
.
Actinomycetes, yang strukturnya merupakan bentuk antara dari
jamur dan bakteri, menghasilkan zat-zat anti mikroba dan asam
amino yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik dan bahan organik.
Actinomycetes dapat hidup bersama dengan bakteri fotosintetik
(Prihandarini, 2000)